Rabu, 02 Februari 2011

Memory Kopi miring Semarang tahun 2010

      Keceriaan kru kopi miring pada saat awal mula Caffe ini mulai dirintis. Kehangatan terasa terutama pada bagian production. mungkin karena berdekatan dengan tungku.
Piss man.. ujar mas brek (bukan nama sebenarnya *red). Sementara mas Putut (Juga sebenarnya bukan nama sebenarnya) tersenyum malu malu waktu di ambil gambarnya oleh penyunting.

      Sementara itu rekan rekan kru kopi miring lagi asik pada ngopi menikmati malam bersama dengan para tamu. Memang pada saat pertama kali berdiri pengunjung tidak terlalu ramai, sehingga mereka bisa ngobrol bareng dengan customer. saling bercanda, sms an, saling lempar senyum, pantun, sendal, juga bahkan saling lempar batu.

     Tidak mau kalah mas sulist (juga bukan nama samaran yang sebenarnya) numpang nampang minta difoto. "minta gambarnya satu mas, gak pedes ya", ujarnya. walau tampil seadanya dengan celana casual setengah lutut mencoba bergaya. sang penyunting pun akhir nya menyetujui untuk mengambil gambar mas Sulis setelah melalui perdebatan yang sengit. "agak geser ke kanan mas, bukan sampeyan. itu lho, botol nya. supaya agak matching dengan logo Kopi miring".

     Setelah pengambilan beberapa sesion akhirnya tidak satupun yang bisa di upload. untung saja ada mas Yoga (bukan nama samaran sebenarnya) mempunyai cadangan pengambilan tanpa disengaja.
"Capek gak mas?" tanya mas Brek. "ah, biasa.. dah biasa kok", timpal mas Sulis. "Minum dulu mas, biar seger. kalo masih kurang bak di kamar mandi di belakang masih penuh kok", ujar mas Brek sambil menyodorkan teko kosong (juga bukan teko sebenarnya.
"Jangan ah.." mas Sulis menolak. "Lho, kenapa?", Mas Brek bertanya dengan penuh ambisi. "Itu kan teko kosong mas..." 

Sayup-sayup alunan musik jazz begitu mendominasi sebuah suasana di kopi miring. Perempuan muda yang duduk di kursi paling depan beberapa kali sempat aku lirik. Diapun seperti mengerti keinginanku. Aku tidak langsung menelan habis-habis kesempatan itu. Aku menyapu pandang seisi ruangan, semuanya duduk berpasangan. Sebagian membuka laptop, ada juga yang hanya baca-baca buku. Tapi kulihat dia sibuk menulis sesuatu sulit aku mengerti. Hmm, naluri kelaki-lakianku mulai liar.


Nongkrong di cafe, ngopi sambil dengeri musik atau buka laptop, posting berita blog, chatting, download gambar dan film porno sepertinya memang merupakan fenomena yang sedang ngetrend di cafe cafe yang bertebaran di semarang.

Aku teguk pelan-pelan secangkir kopi Joss, merasakan hangat mengalir ke tenggorokan begitu nikmat. ya. Kopi Miring, tempat yang nyaman, menu minuman dan makanan yang lezat, ditambah free hotspot. Perempuan muda itu masih belum beranjak dari tempatnya. Masih sibuk notes dan pena nya. Aku yakin, dia pasti merasakan kalau aku lama memperhatikan.


‘’Selamat malam mbak..?’’ aku berkata pelan agar tidak terdengar mengejutkan. Tapi kalau saja dia terganggu, aku tidak salah, sebab ini tempat umum. Kalau mau serius mengerjakan pekerjaan rumah (PR) sekolah, ya di rumah. Atau kalau sibuk menyelesaikan urusan kantor, ya sebaiknya dikerjakan di kantor. Itulah budaya semestinya. Bukan tugas kantor dikerjakan di café.



‘’Silahkan duduk Mas,’’ akhirnya perempuan muda itu mempersilahkan aku duduk setelah beberapa menit aku cuma berdiri saja. Tapi aku malah bengong sebelum benar-benar berdiri di depannya.

"Mau pesan apa lagi mas...." sapanya lembut. "emm..mmbak waitres sini ya?", tanyaku penuh nafsu. "betul sekali mas..", jawabnya. Asem, ternyata sesama teman di Kopi Miring. Kenapa aku jadi bego beini ya? pikirku. Dan di belakang para kru Kopi Miring berteriak teriak riuh kegirangan mengetahui ketololanku ini. Saking hebohnya ada yang meloncat loncat, melempari dengan tisue, sendal jepit, sepatu, baju, celana, Palu, pisau dapur, dan terakhir kompor gas beserta tabungnya ikut mereka lempar. Belakangan ku ketahui dia bernama Vivi (Juga bukan nama Samaran sebenarnya. weleh..weleh..weleh...(disunting oleh Papa Koyex)

cerita ini hanya fiktif belaka, bila ada kesesuian dengan nama maupun tempat, itu karena memang nama dan tempat yang sebenarnya. Please, don't try this at home.

2 komentar: